oleh

Tembakau, Lintingan Revolusioner Petani di Masa Pandemi

Bulukumba, Sulawesi Selatan – Apapun merknya, hari ini harga rokok mengepul tinggi-tinggi. Kebijakan pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 30 persen dan  harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen sangat berdampak. Semakin diperparah  lagi oleh pandemi yang mendera.

Genderang perang terhadap pandemi masih terus ditabuh oleh negara-negara di seluruh dunia. Termasuk pemerintah RI. Namun Covid-19 tidak kunjung mengibarkan bendera putih.

Di pedesaan, banyak petani yang merupakan penikmat rokok yang terpaksa beralih melinting tembakau. Beberapa anak muda menangkap peluang itu. Salah satunya Sri Puswandi, seorang pemuda dari Dusun Bolongnge Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa.

Wandi -sapaan akrabnya- berhasil menemukan para pelanggannya setelah beberapa bulan memasarkan produk tembakaunya.

Pemuda brewok ini menyasar para petani di kampungnya. Di tengah pandemi petani tetap beraktifitas di sawah dan di ladang. Wandi sangat paham betapa bagi para penikmat rokok di kalangan petani pasti terasa berat jika tidak dibarengi kepulan asap. Apalagi jika para petani sedang mengaso sambil minum kopi.

Dengan rasa dan sensasi yang mempunyai ciri khas tersendiri, harga tembakau per tumpi dijual oleh Wandi dengan harga Rp10.000. Bahkan ada yang hanya seharga Rp5.000. Tergantung varian rasa tembakau yang diinginkan. Harga yang cukup bersahabat bagi para konsumen.

Sri Puswandi mengaku mendapat keuntungan yang cukup lumayan dengan membeli tembakau dari petani atau penjual tembakau yang masih original untuk kemudian diolah rasanya dan dijual kembali. 

Dari petani, oleh petani, dan untuk petani. Slogan itu sepertinya bisa dicocokkan dengan pernyataan pemuda ini.
“Saya masih berjejaring sederhana, membeli tembakau pada petani tembakau kemudian mengolahnya menjadi produk yang memiliki berbagai rasa, pasarannya masih di kalangan tetangga dan teman yang juga banyak berasal dari kalangan petani,” tuturnya.

Tembakau yang dijual oleh Wandi bersumber dari beberapa daerah termasuk dari Kabupaten Sinjai yaitu Sinjai Borong dan Malino Kabupaten Gowa. Wandi yang juga dikenal sebagai pemuda aktivis ekonomi kerakyatan ini sejak dulu memang fokus terhadap isu-isu agraria. Dia juga penggagas dan pengurus komunitas Lorong Baru, sebuah jejaring kaum tani di perdesaan.

Dengan tembakau, Wandi mengaku punya kesempatan untuk membantu petani tembakau. Sekaligus membantu para petani lainnya yang merupakan konsumen rokok yang membutuhkan alternatif berupa tembakau.

“Ya, anggap saja ini lintingan revolusioner di masa pandemi,” katanya sambil tertawa.(AN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret