oleh

Senyum Manis Dibalik Pahitnya Kopi

Krisis 1998 silam, telah menumbangkan ratusan perusahaan baik dari sekala kecil, menengah, bahkan raksasa sekalipun. Dampaknya, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan angka kemiskinanan pada tahun yang suram itu melonjak pesat di Tanah Air.

Contohnya Manat Samosir Pria asal Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, yang saat itu menjadi karyawan swasta di Ibukota (Jakarta) tidak luput dari korban PHK. Namun demikian, bagi Manat PHK bukan halangan bagi dirinya untuk terus semangat dalam mencari nafkah guna menghidupi keluarganya.

Memang tidak mudah bagi Manat untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya pada jaman itu. Berusaha keras, Berpikir kencang, untuk memperoleh pekerjaan baru sudah dilakoninya. Hasilnya, Manat memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Di kampung halamanya di kawasan dataran tinggi sekitaran Danau Toba dengan suhu udara berkisar antara 17-29 derajat celcius, akhirnya Manat memutuskan untuk menjadi petani kopi. Pasalnya, jenis tanah di wilayah dengan ketinggian sekitar 1000-1400 mdpl ini sangat cocok untuk perkebunan kopi.

“Setelah diberhentikan dari pekerjaan di Jakarta, saya putuskan untuk menjadi petani kopi di Humbang Hasundutan,”tegas Manat.

Memanfaatkan keuntungan geografis kampung halamannya, Manat bertekad untuk membudidayakan Kopi Arabica. Kopi asal kampung halaman Manat ini di klaim punya keunggulan mulai dari aroma, cita rasa, berkualitas dan menjadi salah satu kopi terbaik di Indonesia.

Berkat ketekunannya, Manat akhirnya dipilih menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mutiara Kasih yang anggotanya tercatat sebanyak 600 petani kopi di Humbang Hasundutan. Singkat cerita, kopi menjadi komoditas yang sangat menjanjikan bagi petani di wilayah di Humbang Hasundutan.

Seiring dengan permintaan yang tinggi, kopi Arabica Humbang Hasundutan, berhasil dipasarkan hingga 100 ton per tahun sejak tahun 2016 silam. Dengan begitu, peningkatan pendapatan petani kopi di Humbang Hasundutan mencapai 30%.

“Dulu itu jadi petani kopi tidak ada yang mau atau tidak dilirik lah, karena dinilai tidak menghasilkan. Tapi sekarang, masyarakat semakin tertarik untuk bertanam kopi, karena kopi menjanjikan dan bisa diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan perekonomian para masyarakat (petani kopi),”ungkap Manat.

Dan akhirnya, kopi arabica racikan Manat dan ratusan petani kopi di Humbang Hasundutan ini tidak hanya dapat dicicipi oleh masyarakat Indonesia saja, namun sampai manca negara.

“Kami (para petani kopi), telah mengekspor ke beberapa negara seperti Amerika, Taiwan, Jepang, dan Jerman. Bahkan tidak sedikit orang asing yang datang kesini langsung cuma buat liat kopi dan proses pembuatannya,”pungkas Manat. (asm/sah/her)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret