oleh

Sebungkus Kisah Nasi Ijo dan 50 Ribu Rupiah Terakhir Dalam Dompet

Bulukumba, Sulawesi Selatan – Pondok Satria namanya. Terletak di Jalan Pinus Kota Bulukumba. Warung ini sangat populer. Selain karena ownernya humble, menunya pun unik-unik. Tentu saja juga dijamin mengundang selera dan mampu menggoyang lidah.

Selama ini orang-orang hanya akrab dengan Coto Makassar, namun di Pondok Satria rupanya ada menu Coto Bulukumba. Diberi nama Coto Bulukumba lantaran rasanya agak berbeda dengan Coto Makassar. Menu lainnya, ada sop ubi kuah coto dan aneka penyetan.

“Saya juga melayani pesanan tumpeng dan catering,” kata pemiliknya, seorang perempuan muda bernama Widya Satria.

Setiap hari Jumat Widya juga menerima pesanan berupa nasi kotak untuk didonasikan ke panti-panti asuhan yang ada di Bulukumba.

Di balik kisah sukses Pondok Satria ternyata terdapat sepotong kisah menarik tentang nasi ijo dan uang terakhir Rp.50 ribu dalam dompet ownernya.

Bermula saat potretumkm.com bertanya tanya tentang suka duka dalam menjalankan bisnis kulinernya, sebuah bincang santai di Ahad pagi 6 September 2020. Widya Satria mengungkapkan bahwa dukanya paling banyak di awal-awal dia memulai usahanya.

“Awalnya saya berjualan nasi ijo dengan modal 50 ribu rupiah. Itu uang terakhir dalam dompet saya. Saya harus putar otak biar uang itu bisa bertambah,” kenang Widya.

Perempuan muda yang juga jago silat dan memanah ini mengisahkan, awal berjualan orang-orang mulanya ragu membeli.

“Mereka bertanya, kok ada nasi warnanya ijo? Mereka pikir saya menggunakan pewarna buatan. Yang beli cuma satu orang,” tuturnya.

Widya akhirnya membagi-bagikan nasi ijo itu kepada orang-orang di sekitarnya. Widya merasa harus membaginya gratis karena itu adalah makanan. Warna ijo itu sebenarnya bersumber dari campuran daun bayam yang hanya bisa bertahan 12 jam.

Hari pertama modal Widya tidak kembali. Namun Widya tidak menyangka salah seorang yang mendapatkan nasi ijo gratis tersebut ternyata mempostingnya di Facebook.

“Malam hari tiba-tiba saya dapat pesanan 25 bungkus untuk keesokan harinya,” kenang Widya.

Masalah baru pun muncul. Widya tidak punya uang sama sekali. Widya memberanikan diri meminjam uang sebesar Rp50 ribu kepada seorang temannya. Temannya justru memberikan Rp100 ribu. Bahkan temannya yang baik hati itu tidak menganggapnya utang. Dia memberikan uang itu secara cuma-cuma.

Hari demi hari nasi ijo buatan Widya semakin populer di medsos. Pesanan semakin banyak setiap hari.

Beberapa sahabat Widya ingin membantu membangun sebuah warung yang bisa digunakan Widya berjualan. Dari titik itulah awal berdirinya Pondok Satria. Para pengunjungnya terus bertambah setiap hari.

Sekali waktu ada seorang pelanggan Pondok Satria yang ternyata orang dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bulukumba. Dia bertanya tentang apa-apa yg dibutuhkan warung milik Widya agar bisa lebih maju.

“Alhamdulillah, Baznas memberi bantuan berupa freezer dan pemanas. Jadilah saya berjualan coto dan aneka macam nasi,” tutur Widya.(AN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar

Potret