oleh

Sari Bambu dan Fermentasi Obsesi dari Salassae

Bulukumba, Sulawesi Selatan – Siapa yang tidak kenal bambu? Sepanjang sejarah umat manusia, jenis pohon yang satu ini telah mewarnai banyak peradaban, dari timur sampai ke barat. Pemanfaatannya dalam berbagai kebudayaan bangsa-bangsa di dunia begitu lazim.

Apakah Anda sudah mencicipi dan merasakan sendiri khasiat minuman yang dihasilkan dari sari bambu? Ternyata banyak orang telah membuktikan khasiatnya.

Menurut salah satu hasil penelitian, sari bambu ternyata berkhasiat sebagai penambah stamina, meningkatkan vitalitas, dan meningkatkan imun tubuh. Sari bambu juga sangat cocok bagi para pekerja yang mengandalkan fisik dan tenaga seperti petani. Sari bambu mampu menghilangkan capek dan pegal sehabis bekerja di sawah, kebun atau aktivitas lainnya. Bahkan mampu menurunkan kolesterol.

Di Desa Salassae, Kecamatan Bulukumpa, seorang pemuda bernama Irfan Rabali sejak tahun 2014 bergiat mengolah minuman kesehatan dari sari bambu. Irfan menuturkan, inovasinya ini merupakan bagian dari obsesinya sejak dulu yakni berupaya memanfaatkan sumber daya alam yang berada di desanya. Inovasi tersebut alhasil mewujud ke dalam bentuk yang produktif. Apalagi sari bambu bernilai ekonomi cukup tinggi.

Irfan adalah seorang petani alami yang bertekad mengkampanyekan pertanian alami atau natural farming pada masyarakat luas. Usahanya dalam pengolahan minuman sari bambu merupakan salah satu bagian dari impiannya itu.

Proses pengolahan sari bambu membutuhkan waktu cukup lama. Menurut Irfan ada waktu tertentu dalam proses penyadapan dan saat panen.

“Penyadapan bambu muda harus dilakukan di sore hari, sekitar pukul 17.00 Wita, kemudian dipanen sebelum pukul 9 pagi supaya sari yang dihasilkan tidak basi,” kata Irfan, ketika disambangi di kediamannya di Salassae, Selasa 1 September 2020.

Sari bambu difermentasi dengan gula aren. Perbandingannya 1 kg sari bambu dengan 1 kg gula aren. Kemudian sari bambu dan gula merah dicampurkan ke dalam wadah berupa ember. Wadah lalu ditutup dengan kertas minyak. Kemudian didiamkan. Proses fermentasi ini sedikitnya berlangsung selama tujuh hari.

Pemasaran maupun promosi sari bambu buatan Irfan juga memanfaatkan beberapa platform media sosial, jejaring komunitas, jejaring sesama petani, dan kerabatnya di luar Bulukumba. Di antaranya Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng.

Harganya cukup terjangkau. Untuk kemasan 250 ml Irfan membanderolnya seharga Rp50.000. Sedangkan kemasan 125 ml seharga Rp25.000.(AN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret