oleh

Sarjana Cumlaude Ini Memilih Kembangkan Kopi Jenis Langka di Desanya

Bulukumba, Sulawesi Selatan – Nama lengkapnya Indrawan, S.Ak. Sejak tahun 2019 berhasil mengeksplorasi kopi liberika yang banyak tumbuh di kampungnya. Indra -sapaan akrabnya- dibantu keluarga dan para sahabatnya memproduksi kopi bubuk kemasan dengan bahan kopi liberika.

Jauh sebelumnya, Indra belajar banyak dari berbagai tempat ilmu seputar perkopian terutama proses roasting.
“Proses pengolahan Kopi Anrang menjadi kopi bubuk kemasan mengadaptasi cara pengolahan tradisional yang turun temurun dilakukan di kampung kami,” kata anak muda yang merupakan lulusan cum laude di STIE Nobel, Makassar, tahun 2019 ini.

Sebelumnya tidak ada yang menyangka Desa Anrang yang dialiri Sungai Balantieng di Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan ini memiliki tanaman kopi langka, yaitu jenis liberika.

“Kopinya orang tempo doeloe, begitu kami menyebutnya. Kopi Anrang dalam bentuk kopi bubuk kemasan menyasar rumahan. Dengan pengolahan tradisional, dipetik langsung oleh petani di desa kami. Sebelum disangrai biji kopi dipilah terlebih dahulu yang layak untuk diproses kemudian dicuci bersih lalu dikeringkan kembali. Proses sangrai menggunakan cara pengolahan dari pengalaman orang tua kita dulu, proses ini menggunakan wajan tanah liat dan diroasting secara manual,” urai Indra, saat ditemui di kediamannya di Desa Anrang, Ahad 30 Agustus 2020.

Berat bersih satu bungkus kemasan Kopi Anrang seberat 200 gram. Proses pengemasannya pun dikerjakan secara manual. Wadah kemasannya menggunakan standing pouch alufoil.

Semasa kuliah Indra pernah mengamen, membuka usaha gerobak minuman, hingga tukang menyeberangkan orang di jalan raya.

Setelah meraih gelar Sarjana Akuntansi (S.Ak), dengan meraih Cumlaude di STIE Nobel Makassar, Indra pun memutuskan untuk pulang dengan tekad ingin membangun kampung halamannya sendiri, Desa Anrang.

Sebagai penikmat kopi, Indra mengingat masa dia masih belajar di SMP, dia sering melihat berkarung-karung biji “Kopi Bugis” -sebutan orang di kampungnya- yang dipetik, diolah, dijual, hingga dinikmati oleh penduduk di kampungnya.

Dari situlah otak Indra mulai bekerja. Menurutnya sejak dia kuliah sudah menemukan perbedaan cita rasa antara kopi di kampungnya dengan kopi di luar kampungnya.

Indra kemudian melakukan semacam riset, bertemu dengan banyak orang yang berpengalaman di dunia perkopian, mulai penikmat kopi hingga akademisi. Akhirnya dia menemukan jawabannya. Ternyata kopi di kampungnya adalah jenis kopi liberika, jenis kopi yang sebenarnya sudah langka.

Indra lalu mulai mengumpulkan modal sendiri dibantu beberapa orang sahabatnya. Indra mencoba memproduksi bubuk kopi kemasan dari kopi liberika. Proses pengolahannya sengaja mengadaptasi pola pengolahan tradisional yang turun temurun dilakukan di kampungnya, sambil modifikasi sentuhan modern.

Hasilnya diluar dugaan, kopi Anrang dengan tagline “Kopinya Orang Tempo Doeloe” berhasil memikat hati para penikmat kopi di luar Desa Anrang. Kopi Anrang pun didistribusikan ke warung-warung kecil maupun toko besar di luar Anrang.

Meskipun diakui ada yang mencemooh dengan menyebutnya, “Kok sarjana membonceng kardus”, karena melihat Indra membonceng produk kopinya ke beberapa warung kopi dan toko di luar desanya .

Kini Kopi Anrang menyita perhatian orang-orang di luar Desa Anrang, bahkan beberapa orang termasuk dari kalangan ASN yang tergolong penikmat kopi mencari rumah Indra di Desa Anrang, mereka ingin membeli produk anak muda ini.

Diakui, setelah dikenal kini Indra kerap diundang menjadi pembicara pada diskusi-diskusi, seminar, dan workshop terkait kewirausahaan atau entrepreneurship.

Pemasaran Kopi Anrang dengan kemasan warna hitam kini sudah menembus NTT dan Kalimantan. Indra memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk promosi dan layanan pemesanan online.

Brand lokal Kopi Anrang pun kini merambah kerjasama dengan beberapa kedai kopi di Bulukumba. Di antaranya Kedai Bambu dan Kedai Kopi Litera.

Menurutnya, kopi Anrang, kopi langka dari jenis liberika hanya tumbuh di Desa Anrang, tentunya membutuhkan dukungan berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah.

”Kopi Anrang harus dilestarikan bukan hanya melalui budidaya maupun industri. Kopi Anrang ke depan bisa menjadi salah satu ikon dari Bulukumba khususnya di dunia perkopian,” kata Indra.(AN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret