oleh

Kopi Kale Kahayya, Nikmatnya Rasa dan Aroma Kopi Pegunungan

Bulukumba, Sulawesi Selatan – Agar bisa bertemu dengan Kahayya maka dibutuhkan jarak tempuh sekitar 35 kilometer dari kota Bulukumba. Jika memulai perjalanan dari kota Makassar maka 180 kilometer adalah jarak untuk menemuinya, di sana, di pegunungan.

Kahayya adalah sebuah desa yang terletak di lereng Gunung Bawakaraeng yang mengitari Sulawesi Selatan. Ada tiga dusun sejuk dan ramah di sana. Dusun Kahayya, Dusun Gamaccayya, dan Dusun Tabbuakkang. Pintu masuk Gunung Bawakaraeng adalah Dusun Tabbuakkang jika memilih jalur pendakian melalui Kabupaten Bulukumba, jazirah paling selatan di ujung Sulawesi Selatan.

Selalu banyak cerita-cerita menyenangkan yang dibawa orang-orang yang pernah menemuinya. Yang paling sering dikisahkan dari sana biasanya ada tiga perihal. Yakni dingin udaranya, cantik alamnya, dan nikmat kopinya.Kopi Kahayya mulai dirindukan dan dicintai banyak penikmat kopi dari berbagai penjuru sejak lima tahun belakangan.

Meneguk kopi yang berasal dari Kahayya maka yang selintas terasa di lidah adalah rasa rempah. Aromanya tajam dan bisa menimbulkan ekstase tersendiri bagi indera penciuman. Kopi di Kahayya memang ditanam di tengah-tengah perkebunan warga yang menanam cengkeh, merica, dan berbagai rempah lainnya. Kondisi ini yang kemudian membuat kopi dari Kahayya memiliki rasa rempah yang khas. Bahkan lidah kita bisa mencecap rasa yang sedikit pedas saat meneguknya. Sensasi rasa dan aroma inilah yang kemudian menjadikan banyak penikmat kopi selalu merindukan Kopi Kahayya.

Penduduk setempat menyadari desa mereka menyimpan potensi besar itu. Sejak tiga tahun ini bertumbuhanlah kelompok-kelompok tani di Desa Kahayya. Saat ini terdapat empat kelompok tani yang membudidayakan, mengolah, dan memproduksi Kopi Kahayya. Dari empat kelompok tani itu sedikitnya lahir tujuh brand Kopi Kahayya.

Mereka lalu menjalani kisah-kisah beraroma kopi. Selain kopi, tembakau Kahayya pun kini juga mulai banyak dilirik.

Salah seorang anak muda Kahayya bernama Ilham juga menangkap pesan-pesan penting dari alam desanya. Kopi yang bertumbuhan di kebunnya adalah juga bagian dari masa depannya. Pemuda berusia 23 tahun itu sejak tiga bulan terakhir mengolah, memproduksi, mempromosikan, dan menjual sendiri Kopi Kale Kahayya.

Dengan modal awal hanya sebesar Rp50.000, alumnus MAN Tanete Kecamatan Bulukumpa ini memulai usahanya. Sebuah brand diusungnya, Kopi Kale Kahayya. Nama Kale, menurut Ilham, merupakan titik awal sejarah tempat tumbuhnya kopi di kampungnya.

Awalnya, Kopi Kale Kahayya diolah dan diproduksi oleh Ilham secara tradisional. Kemudian dia dipinjami alat pengolahan oleh seorang temannya dari luar Sulawesi. Produknya ada tiga jenis. Jenis bean coffee dan rostingan khusus untuk kedai-kedai kopi. Sedangkan kopi bubuk kemasan khusus untuk rumahan. Yang paling populer saat ini dari Kopi Kale Kahayya yakni kopi bubuknya. Seberat 100 gram, Dibanderol seharga Rp10.000.

Sejauh ini pemasaran Kopi Kale Kahayya telah menyapa Makassar, Pontianak, dan Jakarta. Bahkan ada beberapa kafe di kota-kota besar itu yang menjadi langganan Ilham. Pemuda itu bersama dengan Kelompok Tani Kahayya Satu (KTKS) dan beberapa kelompok tani kopi lainnya di Kahayya, kini bukan hanya berkawan dengan rasa dan aroma kopi dari pegunungan. Mereka pun berkawan dengan aroma impian ke masa depan.(AN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret