oleh

Gadis Milenial Bulukumba ini Lestarikan Kue Tradisional Bagea dan Baruasa

Bulukumba, Sulsel – Bagi Anda khususnya yang bermukim di Sulawesi Selatan dan pernah mengalami masa kanak-kanak di era 1960 hingga 1980-an maka kue bagea dan kue baruasa pasti tak asing lagi di telinga, mata dan lidah Anda.

Bagi masyarakat Bugis Makassar jaman dulu kue bagea dan baruasa juga selalu melengkapi suasana Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Bagea dan baruasa disajikan dalam toples bersanding dengan kue-kue kering lainnya di hari raya. Di hari-hari biasa bagea dan baruasa juga melengkapi jajanan yang dijajakan di pasar dan warung.

Bagea dan baruasa cocok dinikmati di segala cuaca dan berbagai tempat. Kue jadul ini paling enak jika dicelupkan terlebih dahulu ke dalam secangkir teh maupun kopi. Namun apakah Anda masih sering mencicipi kue baruasa dan kue bagea di jaman sekarang?

Kue baruasa dan kue bagea adalah kue tradisional yang sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan menurut cerita, kue tradisional ini menjadi salah satu “kue wajib” di istana-istana kerajaan di Sulawesi Selatan seperti Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Merujuk cerita-cerita turun temurun itulah bisa ditarik kesimpulan bahwa kue bagea dan baruasa merupakan salah satu kue berkelas atau elit pada jaman dulu.

Di ‘jaman now’ kue-kue tradisional sudah sangat jarang kita lihat. Bahkan hampir tidak pernah lagi disajikan dalam pesta-pesta adat di Sulawesi Selatan. Kehadirannya sudah tergantikan oleh kue-kue kekinian.

Beranjak dari keinginan melestarikan kue tradisional, seorang gadis millenial di Kelurahan Palampang, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, bernama Nur Alang menekuni usaha rumahan dengan memproduksi kue bagea dan baruasa.

Kue bagea di Kedai Kopi Litera (Model: Ahmad Dihyah Alfian)

Nama lengkapnya Andi Nur Alang. Ia lahir di Kelurahan Palampang pada 10 Maret 1995. Alumnus Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di UIN Alauddin Makassar ini juga menjadi tenaga pengajar bahasa Inggris di SDIT Wahdah Islamiyah Bulukumba.

Cewek berhijab ini bisa membuat kue bagea dan baruasa berdasarkan resep turun temurun dari keluarganya. Alang -sapaan akrabnya- menggeluti usaha ini sejak akhir tahun 2019. Meskipun dikemas dengan tampilan menarik ala kekinian, namun cita rasanya pun tetap mempertahankan cita rasa asli kue bagea dan baruasa.

“Ada versi yang agak keras dan ada pula versi yang lembut. Yang jelas cocok untuk semua umur dan kalangan,” katanya kepada potretumkm.com, Senin 16 November 2020.

Bahan utama kue bagea dan baruasa adalah sagu dan gula aren. Menurut Alang, dengan adanya produksi kue bagea dan baruasa maka setidaknya ia bisa ikut membantu usaha petani gula aren maupun sagu.

Kue Bagea di Starr Inn Cafe

Kue tradisional dan kue bagea merupakan kue favorit keluarga Alang. Berawal dari situ Alang terinspirasi untuk memulai membuka usaha kecil untuk jualan kue tradisional ini.

Dengan modal awal Rp100 ribu Alang kemudian menjalankan usaha ekonomi kreatifnya dengan memproduksi kue tradisional kue baruasa dan kue bagea.

Untuk saat ini, Alang mengembangkan usahanya baik oofline maupun online. Ia menitip kue-kue bagea buatannya di warung-warung dan di kedai kopi yang ada di Kabupaten Bulukumba. Salah satu kedai kopi yang menyediakan camilan kue bagea buatan Alang yakni Kedai Kopi Litera di Kelurahan Palampang. Untuk kawasan Kota Bulukumba, kue bagea buatan Alang juga bisa diperoleh di Star inn Cafe, Jalan Sam Ratulangi.

Kue bagea dan baruasa buatan Alang sangat diminati oleh berbagai kalangan. Tua muda. Banyak peminatnya dari kalangan milenial kerap memesan secara online. Di bawah bendera Sist Pren, Alang juga melakukan promosi dan layanan pemesanan online melalui beberapa platform media sosial. Salah satunya bisa diorder melalui link https://www.facebook.com/sist.pren.

Sist Pren adalah sebuah UMKM yang didirikan oleh Alang bersama sahabat karibnya, Nurfathana S. Kedua gadis ini mengelola Sist Pren dengan memadukan eksplorasi terhadap kearifan lokal seperti kue tradisional maupun pola bisnis yang menyintas pola industri 4.0 di era milenial. Istilah Sist Pren berasal dari kata “Sister” yang berarti saudara perempuan dan “Pren” yang merupakan singkatan dari kata “entrepreneur”.(*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Potret